Tiga Tingkatan Cinta . . .

Posted: September 14, 2010 in Uncategorized

Sejarah kehidupan manusia selalu dihiasi dua lembaran kontardiktif. Ketika hati baik, lembaran sejarah dihiasi dengan keindahan atau kebenaran, sedangkan ketika hati rusak, lembaran sejarah dihiasi dengan keburukan atau kebatilan. Bahkan ketika hati mati, lembaran sejarah menjadi buram atau malah hitam pekat.
Mengapa demikian? Karena “hati” adalah sumber kebajikan dan keburukan, sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori. Selain bisa baik dan buruk, hati juga bisa mati dan matinya tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Jika hati sudah mati, apalagi sampai mati berkali-kali, maka dunia akan hancur. Lembaran hidup yang buram dan kelam akan menyelimuti seluruh dunia. Berbagai tindakan kejahatan dan tragedi kemanusiaan yang belakangan sering menghiasi kehidupan manusia disebabkan oleh kerusakan dan kematian hati.
Faktor yang menyebabkan hati menjadi baik, buruk, atau bahkan mati diantaranya adalah faktor keluarga, lingkungan masyarakat, teman pergaulan, pendidikan, media informasi, perkembangan teknologi, dan lain-lain. Lalu bagaimana caranya agar hati senantiasa menggoreskan lembaran keindahan dan kebenaran dalam kehidupan ini?Bagaimana caranya agar hati selamat dari kerusakan atau bahkan selamat dari kematian?

^_^

Dijelaskan dalam buku yang berjudul Agar Hati Tak Mati Berkali-kali karangan Muhammad Al Bani, beliau mengatakan bahwa ada tiga tingkatan cinta. Cinta dalam bahasa Arab adalah al-hub atau al-mahabat. Maksudnya wadahu, yakni kasih atau mengasihi. Menurut Al-Junaid, cinta adalah kecenderungan hati. Dengan demikian, cinta secara umum dapat didefinisikan sebagai perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang condong kepada apa yang dicintainya dengan semangat mengasihi dan menyayangi.
Abdullah Nashih Ulwan membagi cinta dalam tiga tingkata sebagai berikut:
1. Al-Mahabat Al-Ula
2. Al-Mahabat Al-Wustha
3. Al_Mahabat Al-Adna
Pembagian ini dilandaskan pada sinyalemen Allah.
Katakanlah “Jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu cemaskan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, semua itu lebih kamu cintai daripada Allah, rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (At-Taubah: 24).
Al-Mahabat Al-Ula adalah tingkatan cinta yang utama, yakni cinta kepada Allah dan rasul-Nya serta perkara-perkara yang bertalian dengan keduanya. Inilah cinta sejati, cinta abadi. Apabila cinta sejati ini telah mengeram pada diri seseorang, maka secara meneduhkan dirinya akan mendapatkan ketentraman hati yang hakiki; sebuah ketentraman transenden yang tak pernah terusik oleh kecamuk masalah-masalah duniawi. Allah sebagai Sang Kekasih tak akan pernah membiarkan orang yang dengan tulus mencintai-Nya gelisah dan merana dalam hidup. Semerbak kasih sayang Allah akan menyebar harum mewangi menelusup ke dalam pori-pori hidupnya. Inilah klimaks keindahan cinta sejati.
Adapun kecintaan pada keluarga (anak, istri,ibu, bapak, sanak-saudara), harta, tahta, wanita dan segala objek cinta yang bersifat duniawi adalah tingkatan cinta menengah (Al-Mahabat Al-Wustha). Cinta ini harus berada di bawah cinta utama dan pelaksanannya harus sesuai dengan syariat Allah dan rasul-Nya. Jika cinta menengah diangkat mengungguli cinta utama, maka cintanya akan jatuh pada cinta yang paling rendah, cinta yang akan mendatangkan kehinaan (Al-Mahabat Al-Adna). Orang yang tenggelam ke dalam “samudra tak bertepi” dari Al-Mahabat Al-Adna sebagaimana disinyalir Allah dalam At-Taubah ayat 24 diatas termasuk golongan kaum fasik yang akan selalu mengalami kekeringan hidayah dalam hidupnya. Dalam ayat lain Allah juga menegaskan,
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…(Al-Baqarah:165)
Kematian Cinta Sejati
Fenomena split personality yang melahirkan sikap beragama yang pecah (split religoisty), secara nyata berkaitan erat dengan karakteristik cinta yang mendominasi jiwa. Karakteristik cinta memiliki kesinambungan muara yang strategis dengan eksisitensi tauhid. Sedangkan inti tauhid adalah pengesaan Allah(tauhidullah). Oleh sebab itu, pribadi yang utuh, kukuh dan lurus, hanya akan terwujud apabila dalam diri kita terpatri sikap pengesaan cinta(Tauhid Al-Mahabat); pengesaan kecenderungan hati, pengesaan tumpuan kasih sayang, pengesaan orientasi hidup dan pengesaan kegandrungan aktivitas. Ina Shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rab al-alamin. Inilah jalan hidup yang konkret dari pribadi yang memiliki cinta sejati. Di zaman modern seperti sekarang , orang dengan pribadi seperti ini sangat langka.
Manusia abad ini telah terkontaminasi oleh paham kebendaan (materialisme), sehingga cinta, minat dan keganderungan hati lebih diorientasikan pada sesuatu yang bersifat riil, konkret, dan teraba oleh panacaindra. Kecintaan pada sesuatu yang gaib dan kasat mata tidak memiliki tempat dalam diri manusia masa kini. Akibatnya, kecintaan pada keluarga, harta, tahta dan wanita melebihi cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Cinta sejati mengalami degradasi eksistensi. Kalau tidak diantisipasi secara sungguh-sungguh akan berlanjut pada terjadinya tragedi kematian yang memilukan yakni kematian cinta sejati. Inilah wujud kematian sejati dalam hidup. Kematian raga hanyalah kematian kecil, namun kematian jiwa (cinta sejati) adalah sebuah kematian besar.

Sumber :
“ Agar Hati Tak Mati Berkali-kali”
Pengarang: Muhammad Al Bani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s